Senin, Agustus 30, 2010

Teklek kecemplung Kalen

Menjadi orang “yang kuat” ternyata tidak mudah….Tidak semudah mengutarakannya. Sejak aku masih kanak2, kedua orang tuaku (Alm),acap kali memberi nasehat, petuah, bahkan hukuman yang semua akhirnya kusadari bertujuan baik, yaitu mendidik anak agar menjadi anak yang kuat, anak yang “tahan banting”, anak yang memiliki kekuatan fisik dan bathin agar kelak mampu mandiri dan menjadi orang orang yang berhasil dalam hidup dan pada akhirnya akan memberikan kebanggaan bagi keluarga.

Ku anggap didikan ke dua orang tuaku cukup berhasil, dalam arti kata anaknya hampir selalu mampu menyelesaikan persoalan2 yang menyangkut masalah pergaulan, pendidikan bahkan rumah tangga. Boleh di bilang aku jarang mengeluh tentang kesulitan2 yang kuhadapi, seberat apapun……Aku memang cenderung untuk berusaha mengolah otak, mengatur strategi untuk menyiasati semua persoalan yang muncul, kadang memang tidak harus dihadapi secara frontal, tapi kita perlu juga melalui jalan yang berbelit-belit. Untuk itu kemampuan diplomasi memang diperlukan. “Psy war” sudah merupakan hal yang biasa kulakukan sejak dulu…, entah terkait kompetisi dalam ranah pendidikan, pekerjaan maupun didalam menghadapi persaingan2 yang tak sehat di organisasi profesiku…banyak cara yang mereka lakukan untuk “menjatuhkan” diriku, bahkan kalau perlu dengan menggunakan cara2 mistik, yang notabene sulit diterima akal sehat tetapi kenyataannya memang ada dan tetap eksis di kehidupan masyarakat kita. Toh akhirnya semua bisa kuatasi dengan caraku sendiri.


Belahan jiwaku merupakan orang yang paling tahu manakala aku sedang menghadapi suatu masalah…walau aku selalu berusaha menyembunyikannya serapat-rapatnya. Bukan soal tingkah lakuku yang mendadak berubah…bukan…aku cukup punya kemampuan acting untuk mengelabui orang2 tentang suasana hatiku…Tetapi sepertinya istriku memiliki intuisi atau apalah yang membuat dia selalu tahu. Memang tidak spesifik banget sih…dan saat yang paling mengerikan dan membuat jantungku berdebar-debar nggak karuan adalah saat anak2 sudah tidur malam dan dia mendekatiku, mengelus kepalaku dan berkata….” Ada masalah apa Pa….?”. Lemas sudah…..hancur nyaliku….kekuatanku mendadak sirna…aku hanya bisa terpekur…persis saat aku kecil manakala di ‘sidang” oleh kedua orang tuaku dulu….dan….mengalirlah semua problem yang kuhadapi….mendadak gambaran kedua orang tuaku muncul di hadapanku…di wajah istriku….Setelah selesai berkata-kata…takkan ada debat atau nasehat…hanya “perintah komando” untuk segera tidur. Solusi akan diberikan keesokan harinya…..

“Teklek kecemplung Kalen…tinimbang golek…along balen…” (Alas kaki kecemplung parit…daripada nyari…lebih baik kembali…).

Itu solusi yang diberikannya belum lama ini. Pepatah Jawa Jadul….penuh makna tersirat….dan kepalaku masih puyeng…mencerna maknanya.
Trims kawan2ku…maaf kalau kemarin aku lama menghilang…kenapa…?. Jawabannya ada di atas….hehe…

Senin, Agustus 02, 2010

Sinta & Jojo

Menjadi orang yang nge-Top , terkenal dan menjadi pembicaraan orang banyak ternyata mempunyai banyak “cara”. Kita semua tahu bahwa media audio-visual merupakan sarana yang sangat hebat untuk menciptakan seorang selebritis instan. Ada yang memang tidak sengaja menjadi terkenal dan bahkan menjadi sangat terkenal sampai ke manca Negara, menjadi issue global seperti kasus kemarin yang membuat banyak Bluetooth di ponsel mendadak menjadi fitur yang paling sering dipakai.

Ada lagi yang terkesan “mencari popularitas” dengan mencoret-coret atap gedung DPR. Mungkin tujuannya baik tapi cara yang dilakukan memang menghebohkan, karena menyangkut gedung yang paling di hormati di negeri ini, entah nantinya sejarah akan mencatat atau akan melemparkannya ke keranjang sampah ulah orang itu.

Adalagi yang memanfaatkan media internet melalui upload video melalui situs yang legal dengan menayangkan video yang pada akhirnya mendapat sambutan sangat meriah dari pengguna internet, bahkan akhirnya merebak ke dunia nyata dengan beragam berita di media massa cetak maupun elektronik yang mengulasnya seperti ulah Sinta & Jojo dengan "Keong Racun" nya.

Sinta dan Jojo, dua gadis berasal dari Cimahi, entah karena iseng atau serius , “nekat” meng-upload ke Youtube video lip sync lagu “Keong Racun”. Dalam tempo satu – dua bulan menuai lebih dari 2 juta peng-akses via Youtube. Sinta & Jojo dengan tingkah laku yang konyol dan menggemaskan telah berhasil mencuri hati banyak orang. Terlepas dari lyric lagunya yang memang “menggelitik”, memang ada sesuatu yang membuat mereka menjadi Selebritis dadakan…silahkan di cari sendiri. Yang jelas buatku kedua dara ini, Sinta dan Jojo sungguh beruntung, dikaruniai wajah yang “manis dan cantik”….Semoga mereka tidak mudah terjerumus ke “lembah hitam” dunia artis kita,tapi tetap menjadi orang yang santun dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan baik, taat ber-agama dan sukses baik didunia maya dan dunia nyata…itu harapanku...Hehe....

Minggu, Juli 25, 2010

Bensin Premium Bersubsidi & Standar Emisi Euro 4



Akhir-akhir ini Pertamina sebagai perusahaan negara nampaknya sedang menjadi “Lakon” di belantara informasi negeri ini. Dimulai dari kekisruhan tentang Tabung Gas LPG ukuran 3 kg yang sering bocor katupnya dan menimbulkan ledakan…belum selesai masalah Gas LPG, Pertamina di goyang issu tentang banyaknya kasus “Fuel Pump” mobil yang rusak di Ibu kota Jakarta dimana disinyalir bahwa kadar sulfur/belerang yang terlalu tinggi di bahan bakar premium yang dipasarkan di SPBU .
Banyak komentar yang mensinyalir bahwa ada unsur “kesengajaan” dari pihak Pertamina untuk “meracuni” bensin Premium dengan harapan mobil-mobil segera beralih ke Bahan bakar non subsidi (Pertamax atau Pertamax plus).

Sebelumnya memang ada wacana untuk melakukan pembatasan penggunaan bahan bakar bersubsidi (premium) yang hanya diperbolehkan untuk di konsumsi mobil2 buatan tahun dibawah 2005. Wacana tersebut mengundang pro dan kontra. Ada yang setuju dengan alasan, masa’ udah mampu beli mobil dengan harga >200 jt kok nggak mampu beli bensin Pertamax…? Sementara yang kontra ada yang memberi alasan lebih rasional, bahwa mobil mereka walaupun baru tetapi memiliki spec mesin yang bisa mengkonsumsi bensin premium (rasio kompresi < 9,2 yg bisa menelan bensin 0ktan 88), dimana angka oktan Premium adalah 89, sedangkan batas mesin2 mobil masa kini kebanyakan memang menganjurkan untuk mengkonsumsi bensin dengan angka oktan >91 (pertamax ber-oktan 92).

Dari situ sebenarnya kita bisa tahu, bahwa Pertamina sudah memasarkan bensin dengan angka oktan yang sedikit lebih tinggi daripada yang seharusnya.
Wacana batasan tahun mobil <2005 yang diperbolehkan mengkonsumsi bensin Premium , tentunya berkaitan dengan standar teknologi mesin yang digunakan, dimana tahun itulah batas wajib bagi kendaraan2 bermotor di Indonesia untuk memenuhi standar emisi gas buang “Euro 2” dimana mesin kendaraan (mobil) tsb sudah harus menggunakan teknologi injeksi dan menggunakan catalytic converter di saluran gas buangnya untuk menyaring gas2 beracun hasil pembakaran mesin, sehingga diwajibkan menggunakan bahan bakar tanpa timbal. (Saat ini semua bensin Pertamina sudah tidak mengandung timbal, karena timbal akan menyumbat filter Catalytic converter)

Lalu kira2 apa kaitannya dengan merebaknya kasus rusaknya “fuel pump” mobil2 di Jakarta…? Yang kebetulan banyak di derita oleh operator taksi….? Masalahnya sederhana saja kok…operator2 taksi tsb menggunakan kendaraan sedan Toyota jenis Limo (Vios -spec down) yg notabene seharusnya menggunakan bensin Pertamax. Tapi dipaksakan menggunakan Premium…akhirnya ya begitulah kejadiannya….Lalu….siapa yang mau disalahkan…? Ahh…tahu sendiri lah…hehe…
Lalu bagaimana dengan kendaraan2 “lawas” yang belum memenuhi standar Euro 2…? Apakah cocok menggunakan bensin tanpa timbal..? Sudah pasti akan cepat rusak juga..karena timbal memiliki fungsi sebagai pelumas pada klep ruang bakar mesin bensin lawas. Ujung2 nya mobil2 lawas memang tetap akan kena imbas nya walaupun menggunakan Premium bersubsidi. Mesin akan cepat rusak, dan akan menyebabkan meningkatnya pengeluaran bagi pemeliharaan dan perbaikan mesin mobil2 lawas.Sedangkan teknologi mesin terbaru sudah menerapkan pelumasan yang baik bagi klep masuk dan buang pada mesin2 generasi Euro 2 ke atas.

Pada akhirnya diharapkan konsumen akan menyadari bahwa memelihara mobil lawas, walaupun menggunakan bensin murah, tetap jadi mahal…karena meningkatnya resiko kerusakan mesin. Yang paling aman memang menggunakan mobil dengan tahun >2005 atau yang minimal sudah memenuhi standar emisi Euro 2 dan menggunakan bensin Pertamax sesuai spesifikasi pabrik mobilnya. Mesin awet dan lebih ramah lingkungan.

O ya…perlu diketahui juga teman-teman...., bahwa di negara2 Eropa, Amerika, juga di negara tetangga kita Singapura dan Thailand sudah menerapkan standar emisi Euro 4, bahkan ada yang Euro 5, Makanya beberapa merek dan jenis mobil yang sangat favorit di Negara kita (mobil sejuta umat) tak bisa masuk di Negara2 tersebut, karena tidak memenuhi standar emisi Euro 4. Jadi walaupun mobil2 tsb sangat laku di Negara kita, tetap tak bisa menjadi mobil global….alias jadi mobil sejuta umat yang sekedar “ Think Global-Act Local”…hehe…..

Yaah...pada akhirnya kita memang kudu realistik, tidak bisa hanya dengan cara emosional "menentang" wacana/peraturan2 yang sebenarnya bertujuan demi kebaikan, karena kalau tidak...kita tetap akan menjadi negara yang terbelakang.Makin tertinggal jauh dengan negara2 tetangga kita yang sudah sedemikian maju nya kesadaran masyarakat untuk menerapkan aksi "Bumi yang Hijau".