Jumat, Maret 12, 2010

nge-Blog, terapi mengatasi rasa bosan/jenuh.

Mungkin sudah menjadi suatu sifat manusia, bahwa rasa bosan selalu muncul manakala menghadapi situasi yang monoton. Mungkin lebih tepat disebut sebagai "rasa jenuh". Demikian juga bila kuingat-ingat selama hidup ku ini situasi apa saja yang pernah membuatku merasa jenuh/bosan. Ternyata sangat bervariasi tergantung situasinya. Saat kuliah dulu, rasa bosan muncul justru saat libur panjang semesteran. Pulang kerumah berkumpul dengan keluarga memang menyenangkan, tetapi lewat satu minggu perasaan hati sudah gundah, sementara teman2 saat SMA belum tentu juga bisa pulang kampung, akhirnya timbul rasa kepengin balik lagi ke kampus.

Setelah lulus dan bekerja, rasa bosan kembali muncul saat menghadapi tugas2 dinas yang isinya kebanyakan urusan administrasi, berbeda dengan perkiraanku bahwa ilmu yang ku dapat adalah ilmu praktis dan jauh dari urusan2 admistrasi. Akhirnya begitu selesai tugas wajib 3 tahun, aku sama sekali tidak mau mendaftar sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena aku merasakan selama 3 tahun bekerja justru otak menjadi semakin tumpul dan semakin bodoh, karena jadi melupakan update ilmu yang kumiliki Akhirnya aku memilih jalur swasta dan bekerja secara mandiri.


Setelah berjalan 6 tahun timbul lagi rasa bosan/jenuh dengan situasi yang kualami, Mengejar materi sebanyak-banyakyna sudah bukan merupakan tantangan lagi, aku membutuhkan tantangan lain yang dapat menggugah semangatku. Akhirnya kuputuskan untuk sekolah kembali mengambil brevet yang lebih tinggi. Kuliah dan Kerja kujalani hampir selama 6 tahun di RS Kariadi Semarang. Rasa bosan kembali muncul dua tahun menjelang aku selesai pendidikan. Untungnya aku berkenalan dengan suatu situs yang namanya Blogger (blogspot). Ternyata aku dapat memperoleh suatu penyegaran bahkan suatu jalan keluar untuk mengatasi kebosananku.
Sampai saat ini memang beberapa kali muncul juga rasa jenuh untuk nge-blog tetapi entah mengapa bila melihat dan membaca posting milik para sejawat blogger lain maka rasa jenuh/bosan tersebut berubah lagi menjadi semangat untuk menulis dan mengupdate blog ku ini.

Memang akhirnya aku mengakui, nge-blog bukan sekedar pelipur hati dari rasa bosan/jenuh, tetapi sudah merupakan bagian dari kehidupanku sendiri. Tak terasa sudah lebih dari 150 artikel yang ku tulis dan aku merasa masih akan bertambah terus koleksi2 artikelku. Yang paling membuatku bersemangat adalah membaca dan menanggapi komen2 yang masuk dari para teman2 sejawat blogger. Justru dari komen2 tersebut terkadang aku malah memperoleh masukan yang membuatku menjadi lebih mengerti apa-apayang menjadi pemikiran orang lain. Demikian juga manakala aku membaca artikel2 blog teman2, aku berusaha untuk mengerti apa yang dimaui dg tulisannya dn aku akan berusaha memberikan komentar yang membangun dan membangkitkan semangat. Aku tidak suka memberi komen yang iseng atau asal numpang lewat atau numpang2 lainnya, karena sebenarnya nge-blog bukan itu esensinya, tetapi menjalin persahabatan dan saling mengasah pemikiran untuk menjadi semakin cerdas, itulah yang utama.

Ok teman2 sekalian....tetap semangat nge-Blog....!! Tulislah apa saja yang menarik hati dan pemikiranmu...selama masih bisa berpikir dan bernafas, manfaatkanlah karunia dari Yang Maha Esa itu.

Minggu, Maret 07, 2010

Cerita tentang Kacamata Ku

Mau cerita dikit tentang kaca mata yang setia menemaniku sejak tahun 1998.
Saat itu negara kita sedang di landa krisis moneter, mungkin saat puncaknya, dimana nilai mata uang dollar US saat itu kalo nggak salah mencapai Rp14.000,-/dollar nya.
Aku sedang mengantar istri berbelanja kebutuhan untuk anak2 kami di suatu Mall di kota Semarang. Saat melintasi sebuah etalase toko kaca mata yang terbesar di mall itu, mataku terpana oleh sebuah Kacamata mengemudi yang di pajang. Ku amati baik2.....ternyata itu adalah kaca mata khusus mengemudi, walaupun bisa dipakai dimana saja terutama ”outdoor”. Mereknya RayBan Chromax, driving series, gold plate dengan lensa berwarna coklat.

Sekitar 2 tahun sebelumnya aku sudah pernah membaca iklan kacamata ini di beberapa surat kabar dan tabloid Otomotif, dimana di promosikan bahwa kacamata ini memiliki keistimewaan :
1. Menyaring sinar biru – ultra violet.
2. Mempertajam warna-warna kritis dijalan-raya, yaitu Merah, Kuning dan Hijau (warna lampo rem dan trafic light).
3. Melindungi retina mata dari radiasi UV.

Saat itu aku sudah kepingin sekali membelinya, tetapi apa daya, harganya saat itu (1995-1996) mencapai 250 ribu perak.....yah....sekitar separo gaji perbulan ku sebagai pegawai saat itu. Sehingga niat tersebut ku urungkan dan hanya menjadi sekedar obsesi belaka dan aku cukup puas dengan menggunakan kacamata gelap biasa yang murahan.

Istriku ternyata diam2 mengamati aku yang tampak berlama-lama menikmati bentuk kacamata RayBan tersebut. Kemudian dia mendekatiku dan berkata “ Pa...kamu kepingin kacamata itu yaa.....”. Aku tersenyum dan menggeleng.....” enggak ma....pasti sekarang harganya mahal, sayang duitnya, mending buat beli susu anak2 aja....hehehe...”.
Kemudian kami berlalu dan meninggalkan desah rasa sedih dihatiku......kembali mencari kebutuhan rumah tangga. Rasa sedih akhirnya terlupakan dan kami memasuki supermarket yang ada di mall tersebut dan seperti biasa aku selalu mengasyikkan diri di tempat2 peralatan pertukangan dan keperluan2 mobil.

Selesai belanja, kemudian kami pulang ke Kopeng, perlu waktu sekitar dua jam perjalanan mencapai rumah, setelah sebelumnya kami mengisi perut dulu.

Saat sampai di rumah, kami kemudian membongkar belanjaan kami, dan mendadak......aku menemukan tas kertas mewah bertuliskan nama optik kacamata dimana tadi aku berlama-lama. Dengan jantung berdegup kencang dan tangan sedikit gemetar.....menahan nafas....ku buka tas itu, ku keluarkan isinya....Serasa mau copot jantungku...semburat rasa senang dan teriakanku mengagetkan anak2ku yang ikut merubung. Kuangkat Kotak kacamata terbuat dari kulit berwarna hitam dengan tulisan “RayBan Chromax, driving series”...ku buka dan....hahahaha....kacamata idamanku ada ditangan.....langsung ku kenakan....dan suatu sensasi luar biasa kurasakan saat memandang sekelilingku melalui kacamata itu. Kulihat istriku senyum-senyum simpul....sambil berkata “ Itu tadi kubeli buatmu Pa...karena aku tahu papa udah bertahun tahun kepingin banget punya kaca mata itu”. Kudekati istriku...kupeluk dan kucium keningnya...” Makasih ma....” aku nggak mampu berkata-kata lagi....serasa mau meledak rasanya dadaku. Kemudian ku tanya.....” Berapa kamu beli kacamata itu ma...?”. Istriku bilang “ waktu ku tanya, harganya 1,2 juta, tapi waktu kutawar-tawar, akhirnya dilepas dengan harga separonya, 600 ribu perak, ada garansi perawatan seumur hidup, dengan sertifikat keaslian dari Bausch & Lomb (BL). Kayaknya tokonya lagi butuh duit, karena dagangannya agak sepi, maklum lagi krisis moneter”.
Aku hanya bisa geleng2 kepala....nekat banget banget ni cewek.......Istriku nyambung “ udah nggak usah dipikir Pa....itu duit aku dapat dari bonus dari tempatku kerja kok...hehehe....


Kacamata tersebut sampai sekarang masih kupakai, tidak pernah lepas dariku, manakala berada di perjalanan saat cuaca terang, entah itu saat menyetir sendiri, naik bus, KA, maupun pesawat. Aku merawatnya dengan hati-hati, dan memang terbukti kacamata tersebut sangat awet.

Aku pernah beberapa waktu yang lalu mampir ke suatu optik besar di kota Solo dan menanyakan tentang kacamata ini, mereka bilang sekarang sudah tidak di jual resmi di Indonesia, harus pesan dulu. Kalau ada yang jual biasanya palsu, nggak ada sertifikatnya. Memang benar saat aku googling via eBay....kacamata tsb bisa di pesan dengan harga $299 plus ongkos kirim $30. Wahh.....aku jadi makin sayang dengan kacamata itu yang sudah 12 tahun setia menemaniku.

Ini ada gambarnya....




Senin, Maret 01, 2010

Hari ini 16 tahun yang lalu

Ku buka pintu kamar tidur anakku, anak pertamaku tampak lelap tertidur, selimutnya terlempar di bawah bed, selalu begitu, dia memang paling susah tidur dengan berselimut. Disisinya tergeletak buku pelajaran yang terbuka. Kurapikan selimutnya kemudian kubisikkan ” Selamat Ulang tahun Nak.....”.

Aku kembali ke meja kerjaku, aktifitas gentayangan tiap tengah malam di dunia blogger akhir-akhir ini agak terbengkalai, apalagi kalau bukan karena waktu lebih banyak kugunakan untuk memantau posting dan komentar dari teman2 fesbuk di kelompok KPI-SMI, juga dari beberapa sahabat blogger yang sejenak menikmati kawin siri dengan fesbuk...hehehe...

Enambelas tahun yang lalu, anak pertamaku lahir. Saat itu kami bertempat tinggal di suatu desa terpencil disuatu pelosok kaki gunung. Kami menempati rumah dinas Puskesmas berukuran 21 m2, rumah dengan dua kamat tidur sempit yang bersisihan dengan ruang pelayanan Puskesmas pembantu. Lokasinya berada di pinggiran desa, di kaki gunung Telomoyo, dikelilingi areal persawahan.

Aku masih ingat betul saat malam itu istriku sedang hamil 7 bulan lebih 2 minggu. Pukul 10 malam saat aku sedang menikmati siaran radio (TV belum punya), istriku terbangun dan mendekatiku....kuperhatikan wajahnya tampak kelelahan, yah tadi seharian kami bersepeda motor berkeliling mengontrol pondok2 bersalin para bidan desa yang baru diterima bekerja di wilayah Puskesmas . Waktu ku tanya kenapa....istriku bilang dia kepingin makan tebu. Kebetulan di pojok halaman Puskesmas terdapat se rumpun tanaman tebu. Aku kemudian mengambil golok dan ditemani istri menebas satu batang pohon tebu tsb. Sambil duduk dihalaman depan. Istriku dengan sabar menanti saat ku kupas dan ku potong2 menjadi batangan kecil. Kemudian istriku dengan nikmat mengunyah potongan tebu tersebut. Setelah puas kemudian istriku beranjak tidur. Aku kemudian melanjutkan keasyikan mendengarkan acara radio.

Sekitar pukul 12 malam mendadak istriku memanggilku dari dalam kamar, bergegas aku menemuinya....dan.....ternyata ketuban istriku sudah pecah....istriku merasakan mulas yang sangat hebat di perutnya. Aku langsung tanggap....”kala 1, inpartu”....,nampaknya proses kelahiran sudah berjalan. Aku kemudian mengambil sarung tangan steril, mengenakannya dan kemudian melakukan ”pemeriksaan dalam”...pintu rahim sudah membuka dua jari (membuka 3 cm), perkiraan melahirkan sekitar 8-12 jam untuk kehamilan pertama. Segera saja kukatakan hasilnya pada istriku. Istriku bilang supaya menunggu besok pagi saja baru dibawa kerumah sakit, karena toh mobil dinas berada di Puskesmas induk yang terletak 15 km jauhnya dari tempat kami. Malam itu aku segera menyiapkan alat2 ”minor surgery” set untuk berjaga-jaga. Rasa mulas dan ”kencang2” yang semula tiap 30 menit, berangsur semakin cepat, bahkan menjelang subuh ’range’ nya menjadi tiap 10 menit. Kemudian kulakukan pemeriksaan dalam lagi, ternyata sudah pembukaan 8cm. Sebentar lagi masuk ”kala 2” masa persalinan puncak. Saat itu waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi tanggal 1 maret 1994. Ku bilang pada istriku ” ma...nampaknya sudah tidak sempat lagi minta pertolongan untuk membawamu ke Rumah sakit, anak kita sudah siap lahir secara prematur, bagaimana ma....?” Istriku dengan tabah dan mata berkaca-kaca menjawab ” Pa....aku pasrah saja, kamu tolong lahirkan anak kita ya....”. Aku sejenak tertegun...namun ini adalah suatu keputusan yang harus ku ambil dengan resiko besar....Menolong persalinan Istri sendiri dengan bayi yang masih prematur.
Aku kemudian berkata lagi ” kalau memang mama siap dan pasrah, mama kudu nurut dan akan ku perlakukan sebagai pasien....mama harus kooperatif akan semua yang kuperintahkan” Istriku mengangguk dan berkata ”aku siap pa”.

Pukul 6.00 pagi ku perikasa dalam lagi, ternyata sudah pembukaan 10 (penuh). Kemudian kulakukan proses memimpin persalinan,....60 menit kemudian saat kepala bayi mulai nampak sebesar telur, kulakukan proses ’episiotomi’, menggunting untuk melebarkan sedikit jalan lahir untuk melancarkan keluarnya kepala bayi, itu kulakukan karena pada bayi prematur walaupun kepalanya relatif kecil tetapi tulang2 tengkoraknya masih belum bersambung sehingga di kuatirkan terjadi resiko perdarahan otak bila jalan lahir terlalu sesak. 15 belas menit kemudian lahirlah anakku , aku takjub....laki-laki....Kemudian kupotong tali pusatnya, kuikat dan kututup perban betadine. Kemudian ku bungkus dengan kain sarungku dan kuserahkan ke ibunya.Jujur saja kami belum memiliki popok maupun bahan2 untuk merawat bayi baru lahir...hehehe...

Aku masih harus melahirkan ari2 nya dan menjahit kembali luka bekas guntingan ”epiosotomi”nya.
Dan pada pukul 7.30 pagi selesailah proses persalinan itu. Hanya kami berdua, tanpa bantuan orang lain, hanya kami dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah membereskan alat2 persalinan kemudian aku belari keluar rumah menuju ke rumah tetangga terdekat untuk mengabarkan dan meminta pertolongan mereka memandikan bayi dan mengurus istriku sementara aku kemudian dengan menggunakan sepeda motor menuju ke Puskesmas Induk untuk mengabarkan berita ini, sekalian menghubungi keluarga kami.

Sekarang anakku hari ini sudah berusia 16 tahun, kelas 2 SMA, sehat dan lincah sebagaimana halnya anak2 seusianya.



Terimakasi Tuhan atas Berkah dan Rahmat yang engkau berikan kepada keluarga kami, Selamat Ulang tahun yang ke 16 anakku ”Satrio Tegar Gunung K ”............kami mengasihi dan mencintaimu.