Selasa, November 24, 2009

Tunjuk aja…..Yaank.....

Masih setengah jam lagi perjalanan menuju rumah kami yang di Kopeng.
Sudah 1 tahun ini kami berdomisili di kota Solo. Hari Sabtu sore merupakan hari yang paling di tunggu saat kami “pulang kampung” untuk menikmati hari libur yang singkat, yah…hari Minggu, hari dimana kami sekeluarga bisa sejenak melepaskan diri dari ke ribetan rutinitas sehari-hari. Udara yang sejuk dan rumah yang besar membuat kami merasa lega, merasa nyaman untuk mau “ngapain aja” tanpa kuatir menganggu tetangga kiri-kanan-depan dan belakang rumah.
Seperti biasa lalu-lintas saat Sabtu sore selalu tidak pernah lancar, biasanya truk pengangkut pasir dan truk tronton lah penyebab tersendatnya arus lalu-lintas, di tambah medan jalan yang kebanyakan berupa tanjakan. Tapi bukan masalah buatku, yang penting mantap dan harus berani meliuk-liuk untuk menyalip dan main hajar saat kondisi lalu-lintas kebetulan “free”.

Menjelang masuk kota Boyolali, aku menurunkan kecepatan mobil karena di depanku berderet deret mobil, maklum masuk lajur dalam kota sih…
Mendadak…..Bbruuuummmmm!!!!...... dari arah sebelah kiri mobilku melaju kencang satu sepeda motor dengan suara yang memekakkan telinga. motor itu langsung menggunting laju mobilku untuk kemudian menyalip dari arah kanan mobil lain di depanku . Seketika aku menginjak rem dan membanting stir ke kanan, “ Busyeet….kurang ekor…!!! dasar preman…@#%@@...!!!” sumpah serapah langsung meluncur dari mulutku memaki sepeda motor gila yang melaju kesetanan di tengah kota. Sebentar saja motor itu sudah meliuk-liuk lenyap dari pandangan mata, mengasapi kendaraan dibelakangnya dan pasti meninggalkan sumpah serapah dari mobil2 yang disalipnya…”Edan banget itu biker…!”.
Belum selesai aku memaki-maki…istriku malah tertawa kecil sambil menyentuh lenganku, katanya “Udahlah Pa…emang kamu nggak kayak dia kalau naek sepeda motor… hihihi….”. Sambil mendengus kujawab “ Ya memang aku doyan ngebut Ma…tapi nggak se gila dia di tengah kota, kaya di kejar setan aja itu biker..!”. Istriku melanjutkan “ Pa…tahu nggak motor tadi itu apa…?” Sambil mengingat-ingat ….” Ahh…aku lupa ma…kayaknya motor jelek, udah tua, knalpotnya aja yang di bobok jadi suaranya keras banget”. Lanjut Istriku sambil mengecilkan suara CD “ Itu motor Honda CB Pa…persis motormu waktu jaman kuliahmu dulu…ingat nggak…? Kalau aku mana bisa lupa sama motor begitu…hihihi…”.

Aku terhenyak, sejenak pikiranku melayang ke masa 20-an tahun yang lalu….” He-eh Ma…itu memang motor persis sama dengan Honda CB 100 tahun 70’an punyaku dulu…hahaha…masih ampuh juga itu motor….padahal udah lebih 30 tahun umurnya…gilee beneerrr….”. Istriku melanjutkan “Eh.., tahu eggak motormu dulu itu motor yang paling jelek di fakultas kita Pa….hihihi…padahal teman2mu pada pakai Honda Astrea, GL Pro, RX King, malah banyak juga yang bawa mobil kalau kuliah…kamu pede banget pake motor CB butut itu…itu motor hasil lelang kantor Bapakmu kan….inget nggak?” . Aku tersenyum mendengar omongan istriku…” Iya Ma…hebatnya lagi motor itu pernah ku tinggal di parkiran fakultas selama 1 minggu, ku tinggal pulang ke Purwokerto tanpa di kunci stang…memang udah nggak ada kuncinya, dan ternyata tetap utuh tanpa ada yang cacat waktu aku balik lagi ke Semarang …hahaha….Benar2 motor yang nggak diminati maling, hebatnya lagi kalo di rem mendadak, lampu depannya langsung lepas coplok , nggantung gitu…hahaha….benar-benar motor aneh…Apalagi kalo’ di isi bensin ketengan pinggir jalan yang di campur minyak tanah malah larinya tambah kenceng….!”. Aku tertawa terpingkal-pingkal sendiri mengingat kekonyolan motor bututku itu. Motor itu memang hasil dari lelangan kantor Bapakku, aslinya plat merah, di beli 150 rb, terus buat ngurus surat, cat ulang, dll, abis 100rb, jadi total 250 rb. Aku pake motor itu selama 6 tahun sampai lulus kuliah. Motor itu pulalah yang menjadi sarana pendukung dan juga pelengkap derita selama aku kuliah dan berpacaran dengan cewek yang saat ini duduk di sebelah menemaniku menyetir. Istriku dulu cuek2 aja, nggak malu kalau berboncengan denganku, aku sendiri tidak punya rasa minder dengan motor itu, walaupun kadang jadi bahan ejekan teman2 kuliah. Bahkan motorku pernah di nobatkan sebagai motor paling jelek di seantero fakultas….hahaha…lha wong aku punya’ nya ya cuma itu. Ku lirik istriku masih mesam-mesem…mungkin berpikiran sama juga denganku..mengenang motor bututku itu.

Melewati pertengahan kota, kami berhenti sejenak menunggu lampu trafik menyala hijau. Istriku terbangun dari lamunannya dan berkata “ Pa…inget nggak waktu dulu kita boncengan brenti di trafik perempatan jalan Gajah Mada....itu loh…yang di sebelah kirinya ada dealer Mobil Honda...?. Kujawab ” Hmmm.....iya, aku ingat dealer mobil Honda itu Ma...terus kenapa...?”. Istriku sambil tersenyum ” Kamu waktu itu bilang , ”Yank...kamu pengin mobil sedan Honda yang mana....tunjuk ajaaa...”. Aku kaget waktu papa bilang gitu...tapi aku jadi geli aja mendengar keseriusan suaramu pa...terus aku bilang, ” emang kenapa...buatku enakan naek motor butut ini, bisa sambil meluk kamu....”, terus papa nyambung ” Enggak apa-apa kok yaaank...yang penting tunjuk aja...ntar aku tinggal manthuk2 (angguk2) aja....hihihi”.
Aku ketawa getir....ternyata istriku masih ingat kisah konyol itu, boncengan pake motor honda butut bersanding dengan pajangan sedan2 mewah Honda....sama-sama Honda sih....Cumaaa....Hahaha.......mengenaskan!

Memang manakala duit jatah bulananku sudah mulai menipis, malam minggu kami hanya diisi bersepeda motor keliling kota Semarang sambil jajan tahu petis, yang murah meriah. Kami sering bergurau mentertawakan keprihatinan ini, manakala berada pada situasi yang gempita dengan silau iming2 kemewahan. Apakah ini suatu bentuk dari mekanisme pertahanan diri untuk mempertahankan ego, atau cuma omongan sambil lalu orang yang sedang prihatin...?, yang jelas gurauan seperti itu selalu diikuti dengan canda tawa dan hembusan nafas lega kami berdua....Hehehe.....

Jumat, November 20, 2009

Teman Sejawat (TS) dan Ilmu yg (harus) pelit ?

Kemarin malam sepulang mengantar istri belanja ke Hypermart, aku dan istriku “menyibukkan” diri di ruang tengah, sementara anak2 masih meneruskan belajarnya untuk satu jam lagi. Istriku asyik memasukkan data dari flashdisk ke Laptopnya,yah…selalu begitu, semua konsulan yang masuk dan ekspertise (jawaban atas konsul dari hasil pemeriksaan) yang telah dia buat didokumentasikan dalam foldernya. Waktu ku tanya ngapain sih repot2 amat…kan di RS tempat dia kerja juga tersimpan arsipnya, istriku bilang “Yang kusimpan di file RS adalah data dasar dan surat konsulnya aja, kalo ekspertise buatanku hanya kuberikan yang tercetak di lembar pemeriksaan, kalau yang di komputer RS selalu ku hapus”. “Loh…kok kamu hapus Ma…kenapa?” aku balik tanya karena aku sendiri tidak pernah begitu. Dengan santainya istriku jawab” Pa…ilmu itu mahal…kita juga sekolah sampai bisa seperti sekarang dari hasil jerih payah sendiri, banting tulang, makan hati juga di tanggung sendiri…kita sudah mengorbankan waktu kita yang sangat berharga yang seharusnya untuk pendampingan anak kala mereka masih di SD dan SMP …dan itu tidak bisa ditebus maupun di kembalikan lagi, karena sudah lewat, itu semua adalah pengorbanan anak-anak kita, tujuannya apa sih kita capek-capek sekolah lagi…? Buntut-buntut nya kan buat meningkatkan taraf kehidupan…? Makanya aku tidak sembarangan melepas ilmu ku, karena di luar ada Teman Sejawat (TS) kita yang plagiat, suka meniru-niru jawabanku sementara mereka sendiri tidak memiliki kompetensi untuk menjawab, karena mereka tidak menguasai ilmunya…gituuu …lho Pa….” .

Aku terdiam sesaat memikirkan jawaban istriku, sambil menghela nafas “ Hhmm…masa’ sih ada TS kita yang tega begitu…meniru-niru jawabanmu Ma…?”. Sambil tersenyum sabar istriku bilang “ Pa…kalau sudah menyangkut profesionalitas, pasti ada hubungannya dengan upah maupun rezeki, manusia mudah silau, kalap dan mata gelap…mereka berani main kayu dan menusuk dari belakang demi merebut rezeki yang bukan haknya, Aku saat awal-awal bekerja di RS itu, datang dengan membawa ilmu yang masih baru dan gres…aku begitu mudah dan santainya membiarkan TS ku membuka file2 ekspertise milikku…tadinya ku anggap tidak apa-apalah menularkan ilmu yang terbaru kepada mereka yang belum meng update ilmunya, tapi….. apa yang terjadi Pa…mereka mulai terlalu berani menangani konsulan yang bukan haknya dan bukan jatahnya,karena mereka jelas-jelas tidak menguasainya, akibatnya banyak muncul komplain dari si pengirim pasien ke RS ku…walaupun yang tanda tangan bukan aku, tapi tetap aku lagi yang harus memperbaiki jawaban mereka yang begitu amburadul nggak karuan, padahal Papa tahu kan…sekali pemeriksaan dengan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging) membutuhkan biaya hampir 2 juta rupiah, kasihan pasiennya, karena mereka harus mengeluarkan uang sedemikian besar tetapi memperoleh jawaban yang ngawur, akibatnya tindakan yang di ambil oleh si pengirim jadi keliru juga”. Aku tercengang…” Ooh…sampai gitu ya Ma…”. Isriku meneruskan “ iya Pa….aku yang kalang kabut akhirnya…harus mengulangi dan memperbaiki lagi..dan aku nggak dapet duit…duitnya masuk ke rekening TS yang njawabnya amburadul itu..apa bukan kerja rodi itu namanya…? Sekali dua kali nggak apa2 lah…tapi kalau terus2an…No Way…!” Kulihat wajah istriku begitu bersemangat dan tampak begitu jengkel. Ku tunggu sampai suasana agak tenang…., kemudian istriku melanjutkan “ makanya semua data2 dan ekspertise milikku ku hapus dari file RS, lebih baik kusimpan di laptop rumah dan ku burn di CD, sewaktu-waktu di butuhkan aku masih punya dokumentasinya”.
Aku benar-benar nggak mengira kalau situasinya seperti itu, selama ini ku kira istriku bekerja dengan tenang2 saja, ternyata dia mengalami juga situasi yang tidak mengenakkan berkaitan dengan TS yang terlalu berani dan tidak menyadari keterbatasan kemampuannya …hanya demi mencari rezeki yang bukan haknya.

Aku jadi teringat dengan postingnya Cah Bontot (Pelit amat sih?), memang beda kasus dan situasinya, buat ilmu2 yang menyangkut profesi kayaknya kita memang harus pelit, tapi kalau sekedar memberi informasi dan sekedar pencerahan memang tidak masalah kita memberikan dengan Cuma-Cuma.Lantas sebaiknya bagaimana kita bersikap ya…? Kita semua tahu sekolah itu mahal, makanya ilmu yang diperoleh juga mahal harganya, mungkin kalau kita memberikan “sekedar “ pengetahuan bagi orang awam memang tidak masalah, karena justru kita memberikan pencerahan kepada mereka.
Hidup memang penuh perjuangan yaaa….?