Jumat, Juni 12, 2009

Surat Buat "Kamu"

Hai,
Apa kabar?
Sudah lama kita tidak bertegur sapa ya…sory bukannya aku melupakanmu, sama sekali tidak. Akhir-akhir ini aku memang disibukkan dengan aktifitas kerja yang menguras pikiran dan tenaga, serasa 24 jam sehari itu terlalu cepat. Yah boleh dikatakan aku di kejar target untuk cepat kuselesaikan. Hari ini kusempatkan menulis surat untukmu, karena saat bulan kemarin aku main ke tempatmu aku terburu-buru pulang jadi hanya sempat meninggalkan buah tangan kesukaanmu di depan rumahmu…yah maklum, aku yakin kamu pasti tahu dari siapa lah buah tangan itu….hehehe…hanya aku dan kamu yang tahu kan…hehehe….rahasia kita berdua lah itu.
Tadi malam aku terima email dari teman kita, gank kita yang terkenal paling “gila”, kamu masih ingat kan siapa aja mereka…? Nah…rencananya besok sabtu jam 11 kita mau ketemuan di rumah makan taman “mang Engking” di Sleman –Jogyakarta. Tuan rumahnya si Lanny….kamu masih ingat kan? dia sekarang dah jadi developer kelas kakap di Jogya. Nah si kelompok orang Jakarta sore ini dah mendarat di Jogya, yang dari arah timur ntar malem nyampe naik KA Argo wilis, yang lain2 aku kurang tahu pada naik apa. Yang jelas pasti rame acaranya besok. Cuma sayang kamu pasti nggak bisa datang kan? Kayaknya cuma aku deh yang paling dekat dengan mu, jadi mau nggak mau ya harus ku kasih tahu, biar aku juga merasa lega.
Oh ya…masih ingat nggak betapa konyol nya aku waktu pertama mengenalmu,
Betapa canggungnya aku berkata-kata dengan mu,
Kau berkulit putih, berhidung mancung, ber-rambut lurus agak kemerahan, bermata kebiruan, bergigi rapi, suka menggigit-gigit bibirmu sendiri, senyummu yang malu-malu, kamu berenang bagaikan ikan, kamu suka pake sepatu basket, tas mu dari kain perca berwarna-warni, tulisanmu bentuknya tajam2 ,…jelek ….hehehe….
Masih kuingat betapa manis kamu dengan kerudung sari mu sepulang shalat Ied...
Masih ingatkah kamu, saat aku bergurau bilang rambut mu kepanjangan, besoknya kamu potong pendek?
Masih ingatkah, pertama aku main ke tempat kost mu.....rumah tua, pepohonan tua, perabotan tua, ibu kost yang juga tua bangka....hiiii….merinding aku......
Masih ingatkah kamu saat kita belajar matematika bersama, besoknya nilai kita malah berantakan ..........(ngapain aja sih?).
Yang jelas ku ingat, ayahmu baik sekali , orang sumatera, ibu mu orang Belanda.
Kudoa'kan kamu baik-baik saja ya..........., Minggu depan aku sempatkan main ke rumahmu, biar ku cabuti rumput ilalang yang memenuhi pusaramu, kemarin aku nggak sempat, biar kubawakan lagi bunga sedap malam kesukaanmu, nanti akan ku cuci bersih nisan mu yang udah berlumut, sayang kalo ntar menutupi wajahmu yang begitu cantik...hahahaha....menurutku loh...!
Dah yaa...ntar aku cerita yang lain lagi,
walaupun surat ini tak sampai, lega hatiku....
salam........
*sigh.....

Sabtu, Juni 06, 2009

Selingkuh

Sebagai blogger yg biasa gentayangan tengah malam memasuki rumah orang lain tanpa permisi, asyik menggerayangi buah pikir sesama blogger merupakan ritual yg 'harus' kulakukan...hampir seperti obsesi-kompulsif....mengasyikkan sekali.
Dengan membaca posting2 dan komen di blog mereka, dipadu informasi profil mereka jg lay out nya..,sedikit banyak aku bisa menilai tingkat intelegensia mereka, status sosial-ekonomi nya, motif ngeblog, dan yg pasti adalah kategori status psikiatri mereka. Buat teman2 blogger yang udah lama konek dg aku sudah gak masalah, dah ada kecocokan. Buat yg baru2 entah karena mereka yg ajak nge-link ato sebaliknya, akan selalu menarik buatku untuk meng-explore lebih dalam lbh dahulu. Memang kontak ku di blog termasuk biasa saja, tidak berlebihan, paling antara 10-20 an yg intens...dan mereka2 itu lah yg kurasa jg udah mengerti sedikit tentang ciri tulisan n komen2 ku. Bagaimana dg soal award? Ahh...kalo mau dikumpulkan lebih dari 10, bukannya aku tidak menghargai award2 tsb...tetapi bagiku.,awardku adalah manakala postingku "dapat bermanfaat dg dibaca dan dimengerti". Itu saja sudah lebih dari cukup buatku...itu sudah prinsipku sejak dulu dan sudah kutulis pada artikel awal aku mulai mblogger.....
Ada 3 situs blog, kebetulan pemiliknya perempuan, yang selalu rajin kukunjungi dan kuberi komen, padahal mereka sendiri jarang atau mungkin malas berkunjung ke blog ku...tapi entah mengapa aku tidak merasa jengkel atau sebal karena seperti 'bertepuk sebelah tangan'....bagiku itu hak pribadi mereka dan yg jelas mungkin ada 'alasan' lain kenapa aku ndableg aja...tetap main kerumahnya, walaupun diam2 tengah malam....kalau ditanya apa alasanku kok bisa gitu...?
Jawabannya : AKU SUKA....

Kalau ditanya lagi apanya yg kamu suka?
Jawabanku:
1.tulisan2 nya...selalu menginspirasi aku.
2. Aku suka orangnya.

Kalau ditanya lagi, apa sudah pernah ketemu orangnya?
Jawabku ; belum!
Apakah aku kepingin bertemu mereka...?
Jawabku: ya...
Apakah aku menganggap mereka teman istimewa?
Jawabku : ya, buatku pribadi...istimewa aneh.,hehehe....
Apakah aku merasa bersalah karena terkesan main belakang?
Ah..tidaklah, kalaupun itu dianggap maling, oke2 aja, karena memang aku mengunjungi mereka setelah anak-istriku tidur lelap....
Apakah itu juga termasuk selingkuh...?

duuhh...jangan aku yg jawab, karena jawabanku tidak akan obyektif....

Selasa, Juni 02, 2009

Antara Solo-Jogyakarta (sebuah renungan)


Perlahan ku belokkan arah mobil menuju pintu gerbang itu, keramaian mengelilingi kami berdua, becak mangkal, bus kota dan angkutan kota yang ngetem seenaknya, ojek mencegat penumpang dan bakul makanan yang menggelar dagangan diemperan jalan. Selayang ku pandang tulisan di atas gerbang itu, “setasiun Solo Balapan”. Hmm…..stasiun KA di kota Solo. Ini adalah hari ke dua dan terakhir mengikuti acara di Jogyakarta. Kemarin aku bolak-balik dengan menyetir mobil sendiri. Jarak 70 km sekali jalan harus kutempuh 2 jam. Begitu padat lalu lintas, campur aduk antara sepeda motor hingga truk trailer raksasa, belum lagi orang nyebrang jalan seenaknya serta lampu trafik yang menyebalkan. Pegal rasanya betis ini, kuputuskan untuk menumpang KA Prameks (Prambanan ekspres) yang melayani jalur pendek Solo-Jogyakarta.
Setelah ku parkir mobil, ku bilang “ Nanti ku kabari kalau sudah mau sampai Solo, jemput aku di depan pintu gerbang saja ya Ma..”, isteriku mengiyakan dan balas ucap ; “ Ok Pa…tace care yoo….”. Setelah istri keluar dari halaman setasiun, aku menuju loket karcis, kubayar 1 lembar, 7 ribu perak, kereta masih 15 menit lagi berangkat., jam 6.30.
Sambil menunggu, kuletakkan pantatku di bangku panjang di dekat pos Satpam. Kunyalakan sebatang LA menthol light…..mmm…sedaap…..peduli setan belang dengan larangan merokok, ini stasiun terbuka bung….
tak berapa lama,ku lihat di depanku seorang ibu muda berusaha menenangkan anaknya yang tampak gelisah sambil menunjuk-nunjuk aku…si ibu juga kelihatan sungkan dan agak ngeri kayaknya….ada apa sih…oh iya mungkin karena wajahku yang tampak aneh di banding penumpang2 lain? Kuperhatikan sekelilingku, orang2 yang menunggu, hmm..memang beda…raut wajahku berbeda dengan orang Solo kebanyakan. Ku raba bulu2 cambang dan jenggotku…dah 7 hari belum sempat bercukur, keliatan brewoknya, ditambah alis tebal, kumis kasar, rambut pendek 2 cm, serta kaca mata RayBan kesayanganku…pantas aja anak itu gelisah…hehehe….
Sebentar kemudian KA memasuki stasiun, bersama-sama penumpang lainnya kami mencari tempat duduk. Kursinya memanjang berhadap-hadapan, lumayan bersih, karena jarak pendek yang pasti nggak ada toilet, maka bebas dari bau pesing yang kerap menjadi aroma terapi di KA Indonesia, tidak terkecuali kereta kelas Argobromo sekalipun yang eksekutif. 10 menit kemudian kereta berjalan, pelan2 mengembangkan kecepatannya. Jalur Solo – Jogya sudah double track, sehingga tidak perlu berhenti di stasiun kecil bila crash dengan kereta lainnya, makin lama makin cepat…buset…masinisnya jago juga, kuperkirakan ini kereta lari sedikit di atas 100km/jam…pengin rasanya aku yang mengendalikannya…naluri need for speed ku bangkit lagi.
Sambil menikmati perjalanan singkat ini, pikiranku menerawang jauh melampaui kecepatan kereta ini…sampai ke masa-masa silam saat aku masih sekolah dulu. Perjalan kereta selalu menimbulkan sensasi tersendiri, ada rasa yang aneh selalu mengingatkan dengan peristiwa yang menyenangkan, menimbulkan mood yang baik. Ku rasa pengalamanku saat masih balita, begitu senangnya pertama kali di ajak naik KA oleh kedua orang tuaku ke Jakarta masih membekas, suatu kebahagiaan terpendam, rasa nyaman dan rindu akan belaian kasih sayang kedua orang tuaku…ahh…sudahlah…mereka sudah meninggal dunia semuanya. Kembali aku merenung…ternyata seusia aku saat inipun rasa rindu akan kehadiran orang tua selalu muncul, rasa takut, rasa cemas, gembira, saat berada didekat mereka merupakan kenangan yang tak terlupakan…seperti halnya anak kecil tadi yang takut melihat penampakanku…begitu dia mencari perlindungan pada ibunya…mungkin juga hal ini akan membekas di benak anak kecil itu kelak.
Kusapukan pandanganku kesekeliling gerbong, ada sepasang ABG, mungkin seumur anakku yang di SMA, yang perempuan duduk asyik mengangkat ke dua kakinya ke atas kursi dan si cowok dengan santainya mengambil foto2 si cewek dengan kamera ponsel, penumpang lain hanya tersenyum dan yang lainnya pura-pura tidak melihat…aku jadi ingat lagi masa-masa sekolah SMA… seperti itulah aku dulu, hidup begitu indah, pergaulan yang menyenangkan dan perjalanan yang menggairahkan….
Di sudut seberang dekat pintu antar gerbong kulihat seorang laki-laki tua, mungkin sekitar 70 tahun,berkaca mata tebal, bingkai tanduk, memakai Jas hitam lusuh tanpa dasi dengan celana abu2, serta sandal selop…asyik memperhatikan pemandangan di luar kereta….sambil sesekali memperhatikan penumpang2 lainnya. Mungkin dia juga mempunyai pikiran yang sama dengan aku….betapa panjang perjalanan hidup kakek itu..., lebih banyak lagi kenangan2 yang terlintas di benaknya, aku masih belum apa2 dibanding dia. Kakek tua itu sudah begitu sarat dengan pengalaman hidup, berapa generasi sudah dia lewati mulai dari zaman penjajahan Belanda, Jepang, Kemerdekaan, Orla, Orba, Reformasi, dan yang sekarang ini Pasca reformasi. Di balik Jas nya yang lusuh, sang kakek itu tetap yakin jas adalah jas, selusuh apapun jas yang dia pakai akan tetap lebih sopan dari pada kaus yang berharga ratusan ribu. Semiskin apapun dia, dengan menggunakan jas nya itu dia tetap merasa sebagai orang yang lebih ber kelas. Aku menghela nafas….Hhhh…Memang benar, cara kita berpakaian justru menunjukkan penghormatan kepada diri sendiri , kadang lebih dari penghargaan kepada orang lain. Aku sering melihat memang di desa-desa tempatku tinggal, saat maghrib, para pemuda, bapak-bapak dan kakek2 berjalan menuju masjid dengan mengenakan sarung dan memakai jas, dengan wajah yang cerah mereka memenuhi panggilan shalat…menyenangkan melihat mereka yang sehari-hari bermandi keringat dengan baju lusuh menggarap ladangnya, tampil bersih menghadapNya.
Sebentar kemudian kereta memasuki stasiun KA Tugu-Jogyakarta…perjalanan singkat 1 jam. Aku melangkah keluar dari stasiun dan menaiki becak yang ku minta mengantar ke tujuan, semilir angin dan deru knalpot kendaraan bermotor tidak mempengaruhi pikiranku yang masih terpaku ke sensasi di kereta tadi.
Kadang orang memang perlu untuk recollect juga…butuh suasana tertentu yang dapat menghantarkan kita pada perenungan perjalanan hidup, melatih kepekaan rasa kita, memperkaya bathin kita akan kemanusiaan, mulai dari diri kita, hidup kita dan juga orang2 dari masa lalu kita. Yang mungkin telah tiada, maupun yang hilang di telan waktu dan kita tidak tahu apakah akan bertemu dengan mereka-mereka suatu saat….ya…suatu saat nanti...ntah kapan................

*buat; more than chocolate.